Teknik Menyusui yang Benar
Indikator teknik menyusui efektif: posisi tubuh, perlekatan, dan keefektifan isapan bayi.
Teknik menyusui yang benar merupakan cara memberikan ASI kepada bayi dengan posisi ibu dan bayi yang tepat serta perlekatan (latch on) mulut bayi pada payudara yang benar. Indikator keberhasilan teknik menyusui yang efektif meliputi posisi tubuh yang benar (body position), perlekatan yang tepat (latch), dan keefektifan isapan bayi (effective sucking) (Amiruddin, Veriyani, & Khotimah, 2023).
Posisi Menyusui
Posisi menyusui sebaiknya dipilih senyaman mungkin bagi ibu, baik dengan posisi duduk maupun berbaring, dengan memperhatikan agar kepala dan tubuh bayi berada dalam satu garis lurus, wajah bayi menghadap payudara dengan hidung berhadapan dengan puting, tubuh bayi menempel rapat pada tubuh ibu, dan seluruh tubuh bayi tersangga dengan baik, tidak hanya bagian leher dan bahu. Posisi yang salah dapat mengakibatkan perlekatan yang buruk, sehingga bayi tidak mendapatkan ASI secara optimal dan ibu berisiko mengalami nyeri puting (Limbong & Desriani, 2023).
Perlekatan (Latch On)
Perlekatan yang benar ditandai dengan mulut bayi terbuka lebar, sebagian besar areola (terutama bagian bawah) masuk ke dalam mulut bayi, bibir bawah bayi terputar keluar (dower), dagu bayi menempel pada payudara, serta tidak terdengar bunyi decak saat bayi mengisap. Perlekatan yang tepat memungkinkan bayi mengosongkan payudara secara efektif dan mencegah terjadinya puting lecet.
Tanda Teknik Menyusui yang Efektif
Teknik menyusui dikatakan efektif apabila bayi tampak tenang saat menyusu, isapan bayi teratur dan dalam disertai gerakan menelan yang terdengar, ibu tidak merasakan nyeri pada puting, serta bayi melepaskan payudara sendiri setelah kenyang. Edukasi mengenai teknik menyusui yang benar terbukti secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam menyusui berdasarkan hasil evaluasi pretest dan posttest pada berbagai kegiatan penyuluhan (Munir & Lestari, 2023).
Tanda Bayi Cukup ASI
Kecukupan asupan ASI dapat dinilai dari beberapa indikator, antara lain bayi buang air kecil minimal enam kali dalam 24 jam dengan warna urine jernih, berat badan bayi bertambah sesuai kurva pertumbuhan, bayi tampak tenang dan puas setelah menyusu, serta payudara ibu terasa lebih lunak setelah proses menyusui berlangsung.